Kenapa Bandung? Kota Sejarah yang Menjadi Saksi Lahirnya Solidaritas Bangsa-Bangsa Asia-Afrika
Sahabat MKAA
0 Tayangan
Banyak yang mengenal Bandung sebagai kota penuh kreativitas, kaya kuliner, dan
destinasi wisata favorit. Namun di balik gemerlapnya, Bandung menyimpan sejarah
perjuangan yang tak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga berdampak pada
dunia.
Bandung bukanlah kota biasa. Kota ini pernah menjadi panggung bagi peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api, ketika warga Bandung memilih untuk membakar kotanya sendiri demi mencegah jatuh ke tangan penjajah. Keputusan yang sangat berani ini menjadi simbol kuat semangat perlawanan dan tekad mempertahankan kemerdekaan.
Selain itu, Bandung juga punya peran penting dalam perjalanan hidup Bung Karno. Di sebuah penjara di Bandung, beliau menyusun pledoi terkenal Indonesia Menggugat. Pledoi ini tak hanya menjadi pembelaan diri, tetapi juga menjadi pemantik semangat bagi rakyat Indonesia untuk terus melawan ketidakadilan.
Gedung Merdeka dan Konferensi yang Mengguncang Dunia
Di jantung Kota Bandung berdiri Gedung Merdeka, saksi bisu lahirnya peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah internasional: Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955. Saat itu, sebanyak 29 negara dari Asia dan Afrika berkumpul, berdiskusi, dan saling menguatkan tekad untuk melawan penjajahan dan mewujudkan perdamaian.
Dari pertemuan penting inilah lahir Dasasila Bandung, sebuah rumusan sepuluh prinsip solidaritas dan perdamaian antarbangsa yang tetap relevan hingga sekarang. Prinsip-prinsip tersebut tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi juga pengingat bagi generasi masa kini akan pentingnya kesetaraan, kebebasan, dan kerja sama internasional.
Bandung Lebih dari Sekadar Destinasi Liburan
Bandung menjadi simbol bahwa kota atau negara yang pernah dijajah bisa bangkit, menjadi tempat yang mempertemukan bangsa-bangsa untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian dunia. Dari Bandung, suara solidaritas antarnegara berkembang menjadi lebih lantang, melampaui batas-batas wilayah dan budaya.
Saat ini, Bandung dikenal sebagai kota kreatif, penuh inovasi, dan ramah bagi anak muda. Namun, sebagai generasi penerus, kita juga perlu mengenang dan memahami sejarah yang membentuk identitas kota ini.
Mengunjungi Museum Konferensi Asia Afrika di Gedung Merdeka bukan hanya tentang melihat benda-benda bersejarah atau membaca panel informasi. Lebih dari itu, museum ini mengajak kita untuk memahami nilai-nilai yang dulu diperjuangkan: kesetaraan, kebebasan, dan pentingnya dialog dalam menciptakan perdamaian.
Sebagai generasi muda, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melanjutkan semangat itu. Bukan hanya dengan mengenang, tetapi juga dengan mengamalkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan sehari-hari – baik di lingkup pertemanan, komunitas, maupun pergaulan internasional.
Mari kita pelajari, pahami, dan sebarkan semangat persatuan ini agar tetap hidup di hati kita semua.
Penulis: Global Literasi/Elsa Agustiani
Bandung bukanlah kota biasa. Kota ini pernah menjadi panggung bagi peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api, ketika warga Bandung memilih untuk membakar kotanya sendiri demi mencegah jatuh ke tangan penjajah. Keputusan yang sangat berani ini menjadi simbol kuat semangat perlawanan dan tekad mempertahankan kemerdekaan.
Selain itu, Bandung juga punya peran penting dalam perjalanan hidup Bung Karno. Di sebuah penjara di Bandung, beliau menyusun pledoi terkenal Indonesia Menggugat. Pledoi ini tak hanya menjadi pembelaan diri, tetapi juga menjadi pemantik semangat bagi rakyat Indonesia untuk terus melawan ketidakadilan.
Gedung Merdeka dan Konferensi yang Mengguncang Dunia
Di jantung Kota Bandung berdiri Gedung Merdeka, saksi bisu lahirnya peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah internasional: Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955. Saat itu, sebanyak 29 negara dari Asia dan Afrika berkumpul, berdiskusi, dan saling menguatkan tekad untuk melawan penjajahan dan mewujudkan perdamaian.
Dari pertemuan penting inilah lahir Dasasila Bandung, sebuah rumusan sepuluh prinsip solidaritas dan perdamaian antarbangsa yang tetap relevan hingga sekarang. Prinsip-prinsip tersebut tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi juga pengingat bagi generasi masa kini akan pentingnya kesetaraan, kebebasan, dan kerja sama internasional.
Bandung Lebih dari Sekadar Destinasi Liburan
Bandung menjadi simbol bahwa kota atau negara yang pernah dijajah bisa bangkit, menjadi tempat yang mempertemukan bangsa-bangsa untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian dunia. Dari Bandung, suara solidaritas antarnegara berkembang menjadi lebih lantang, melampaui batas-batas wilayah dan budaya.
Saat ini, Bandung dikenal sebagai kota kreatif, penuh inovasi, dan ramah bagi anak muda. Namun, sebagai generasi penerus, kita juga perlu mengenang dan memahami sejarah yang membentuk identitas kota ini.
Mengunjungi Museum Konferensi Asia Afrika di Gedung Merdeka bukan hanya tentang melihat benda-benda bersejarah atau membaca panel informasi. Lebih dari itu, museum ini mengajak kita untuk memahami nilai-nilai yang dulu diperjuangkan: kesetaraan, kebebasan, dan pentingnya dialog dalam menciptakan perdamaian.
Sebagai generasi muda, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melanjutkan semangat itu. Bukan hanya dengan mengenang, tetapi juga dengan mengamalkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan sehari-hari – baik di lingkup pertemanan, komunitas, maupun pergaulan internasional.
Mari kita pelajari, pahami, dan sebarkan semangat persatuan ini agar tetap hidup di hati kita semua.
Penulis: Global Literasi/Elsa Agustiani
:
