Napak Tilas Konferensi Asia-Afrika Bersama SMKAA dan Kawan GNFI Dalam Rangka Memperingati KAA Ke-71 Tahun

Klab Edukator SMKAA
15 Tayangan

Sahabat Museum Konferensi Asia-Afrika (SMKAA) berkolaborasi dengan Kawan GNFI (Good News From Indonesia) mengadakan program Napak Tilas Konferensi Asia-Afrika pada tanggal 25 April 2026 dalam rangka memperingati 71 tahun KAA. Kegiatan ini turut didukung oleh Museum Konperensi Asia-Afrika (MKAA), dengan peserta yang terdiri atas anggota SMKAA, Kawan GNFI, serta masyarakat umum. 

Kegiatan dimulai dari MKAA, Kang Dennis selaku pemandu dari Klab Edukator SMKAA, memberikan beberapa arahan kepada peserta selama kegiatan Napak Tilas berlangsung. Tempat pertama yang dikunjungi adalah Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan, gedung ini menjadi tempat pameran hortikultural (pameran hasil pertanian Indonesia) dan budaya Indonesia dan menjadi side event dalam KAA. Salah satu kebudayaan Indonesia yang ditunjukan adalah wayang golek. 

Perjalanan dilanjutkan menuju Grand Hotel Preanger, Hotel Preanger menjadi salah satu tempat penginapan para delegasi dari berbagai negara seperti Yaman, Suriah, Sudan, Laos, Lebanon, dan Irak. Delegasi Sudan melakukan pemutaran dua film yang terdiri film hitam-putih dan film berwarna, film hitam-putih menampilkan industri yang ada di Sudan sementara film berwarna menayangkan hal-hal apa saja yang terjadi di Sudan. Terdapat pula The Golden Book milik Grand Hotel Preanger yang mencatat tamu-tamu penginapan dari berbagai negara delegasi. 

Setelah dari Grand Hotel Preanger, peserta kegiatan melanjutkan ke lokasi selanjutnya yaitu Hotel Savoy Homann. Hotel Savoy Homann adalah hotel pertama di Bandung yang didirikan pada tahun 1871 oleh Mr. A. Homann. Hotel Savoy Homann juga memiliki The Golden Book dan buku ini sudah hadir versi digitalnya. Pada bagian memorabilia, terdapat koleksi alat-alat yang digunakan delegasi KAA saat perjamuan makan.

Peserta kegiatan juga mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi ruangan tempat inap Sukarno kala itu yang berada di ruangan 244. Menurut Almahikha, peserta dari anggota SMKAA menyatakan jika Hotel Savoy Homann adalah tempat yang paling berkesan terutama ketika mengunjungi ruangan 244, tempat inap Sukarno. “Kalau dari diri aku sendiri yang paling berkesan itu di Savoy Homann karena itu pertama kalinya aku bisa lihat secara langsung kamarnya Sukarno seperti apa ketika KAA dan ternyata itu tuh ada fun factnya, kalau itu tuh (kamar Sukarno) belum pernah dirubah lay out nya,” ujar Almahikha. Kiki, peserta dari Kawan GNFI pun turut mengatakan bahwa tempat yang sangat berkesan adalah Hotel Savoy Homann, “Tadi ke yang Hotel Savoy Homann, yang ke kamar Sukarno.”   

Selepas dari Hotel Savoy Homann, peserta kegiatan beranjak kembali menuju tempat selanjutnya yaitu Hotel Swarha. Mereka terlebih dahulu melewati Masjid Raya Bandung, yang mana pada saat pelaksanaan KAA digunakan oleh para delegasi yang beragama Islam untuk melaksanakan ibadah Sholat Jumat. Sesampainya di Hotel Swarha, Kang Dennis menyampaikan bahwa hotel ini diperuntukan untuk jurnalis dalam negeri, selain itu terdapat beberapa hotel di Jalan Braga yang digunakan oleh para jurnalis. Lalu saat KAA berlangsung selama seminggu dan sidang komite digelar di Gedung Dwi Warna, para jurnalis yang meliput disediakan taksi beserta tarif harian jika ingin mengunjungi gedung tersebut. 

Tepat di seberang Hotel Swarha, berdiri gedung Kantor Pos Besar Bandung yang mana gedung tersebut digunakan oleh jurnalis peliput KAA untuk mengirimkan berita tentang konferensi tersebut. Terhitung 280.000 kata perhari yang dikirim oleh para jurnalis yang sedang meliput KAA, dan terdapat perangko khusus Konferensi Asia-Afrika yang terdiri dari beberapa seri. Pada Walking Tour kali ini, peserta kegiatan dapat merasakan keseruan mengirim surat melalui pos, peserta dibekali postcard beserta perangko untuk menulis dan mengirimkan surat ke alamat yang dituju. 

Tempat terakhir yang dikunjungi oleh peserta adalah Museum Konperensi Asia-Afrika sekaligus penutupan acara Napak Tilas Konferensi Asia-Afrika di Gedung Merdeka. Pemanduan di museum dilakukan secara singkat oleh Kang Dennis, melewati beberapa panel ruang pameran tetap dan langsung berjalan menuju Gedung Merdeka. Pada era kolonial Belanda, Gedung Merdeka digunakan sebagai tempat pertunjukan atau Schouwburg, seperti pesta dansa dan pertunjukan musik. Baru kemudian pada tanggal 7 April, nama gedung ini diubah namanya menjadi Gedung Merdeka oleh Sukarno dalam rangka mempersiapkan Konferensi Asia-Afrika. 

Kang Dennis menutup acara dengan sebuah quotes yang dikutip dari pidato Sukarno. “Tak ada tugas yang lebih penting selain menjaga perdamaian. Karena tanpa perdamaian, kemerdekaan kita tidak ada artinya,” lalu diakhiri dengan foto bersama peserta dan panitia di Gedung Merdeka. 

Acara Napak Tilas Konferensi Asia-Afrika berhasil terlaksana dengan sukses dan mendapatkan respon yang sangat baik dari para peserta. Sadira, peserta kegiatan, mengatakan bahwa acara Napak Tilas ini sangat asik serta memberikan insight baru baginya, “tadi asik banget, seru banget! Memang cuacanya agak panas, tapi rame banget. Terus di setiap titik-titiknya tuh dikasih tau sejarahnya, aku paling suka yang nulis postcard nya sih, jujur jadi rame gitu.”  Beberapa peserta bahkan menginginkan supaya kegiatan ini terus diselenggarakan. 

Melalui acara Napak Tilas Konferensi Asia Afrika, diharapkan nilai-nilai yang terkandung dalam KAA, terus hidup sampai ke generasi selanjutnya. 

Penulis: Nasma Naziha (Klab Edukator)
Penyunting: Salma Pebriani dan Dennis Surya Putra (Klab Edukator)

:

(0)