Inggit Garnasih, Menemani Sukarno sampai Gerbang Kemerdekaan

Sahabat MKAA
0 Tayangan

Inggit Garnasih

Di bagian selatan Bandung terdapat sebuah desa yang indah bernama Kamasan. Sebagian besar penduduk di desa Kamasan bekerja sebagai petani. Desa Kamasan terkenal sebagai penghasil perhiasan emas dan perak. Selain itu, desa ini juga terkenal sebagai desa penghasil makanan tradisional seperti opak dan bahan makanan. Desa Kamasan dialiri oleh Sungai Cisangkuy.

Pada 17 Februari 1888, di Desa Kamasan, Banjaran, Kabupaten Bandung, lahir seorang bayi cantik bernama Garnasih dari keluarga petani sederhana yang disegani, Ardjipan dan Amsi. Arjipan menamai putrinya Garnasih dengan harapan agar sang anak memiliki sifat yang menyegarkan dan penuh kasih sayang. Garnasih mempunyai dua saudara yang bernama Natadisastra dan Murtasih. Garnasih bersekolah di Madrasah Ibtidaiyyah (tingkat SD). Setelah lulus, ia tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena pada masa kolonial akhir abad ke-19, pendidikan dasar dianggap cukup untuk perempuan pribumi.

Garnasih tumbuh dengan wajah yang cantik, sehingga banyak disukai oleh teman-temannya. Karena kecantikannya, ia diibaratkan bunga mekar yang dikelilingi serangga jantan yang ingin menghisap sari madunya. Banyak pria memberikan “mahugi”—hadiah uang satu ringgit (2,5 rupiah) untuk menarik perhatian Garnasih. Dari situlah ia mendapat julukan “Si Ringgit”. Julukan itu kemudian berubah menjadi “Inggit”, dan melekat di depan nama Garnasih: Inggit Garnasih.

Pada umur 12 tahun, Inggit dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang patih di Karesidenan Priangan bernama Nata Atmadja. Karena menikah tanpa cinta, pernikahan mereka tidak bertahan lama.

Setelah berpisah dari Nata Atmadja, Inggit menikah dengan H. Sanoesi pada tahun 1916. Sanoesi adalah pengusaha sukses dan aktivis Serikat Islam pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Inggit ikut terlibat dalam kegiatan Serikat Islam bersama perempuan-perempuan lainnya di Bandung.

Pernikahan kedua ini memperkenalkan Inggit pada dunia politik dan pergerakan nasional. Pada Kongres Sarekat Islam 1916, Inggit bertugas mengelola dapur umum serta menerima dan mengatur tamu-tamu kongres dari berbagai daerah.

Pada tahun 1921, Sanoesi dan Inggit menerima surat dari H.O.S. Tjokroaminoto yang meminta menantunya, Sukarno, dicarikan tempat tinggal selama berkuliah di Technische Hoogeschool (sekarang ITB). Sanoesi dan Inggit pun memberikan kamar depan rumah mereka kepada Sukarno. Saat itu Sukarno tinggal bersama istrinya, Oetari.

Seiring berjalannya waktu, kedekatan antara Sukarno dan Inggit semakin intens karena Sanoesi sering tidak berada di rumah. Sukarno kemudian meminang Inggit, dan atas ketulusan yang luar biasa, Sanoesi menceraikan Inggit demi perjuangan bangsa. Sukarno pun menceraikan Oetari dan mengembalikannya kepada orang tuanya secara baik-baik.

Sukarno dan Inggit menikah pada 24 Maret 1923. Dalam akta nikah, usia keduanya dimodifikasi: Sukarno ditulis berusia 24 tahun (padahal 22 tahun), sementara usia Inggit dikurangi menjadi 35 tahun.

Pasangan ini kemudian mengangkat seorang anak bernama Ratna Juami (Omi), yang sebelumnya bernama Arawati, putri dari kakak Inggit, Murtasih.

Mereka sempat berpindah-pindah hingga menetap di rumah di Jalan Ciateul No. 8 dengan tujuh ruangan khusus. Inggit mendampingi Sukarno dalam pendidikan maupun perjuangan politiknya. Ia menjadi penerjemah saat Sukarno memberikan kursus politik kepada masyarakat Sunda.

Rumah mereka sering menjadi tempat berdiskusi para tokoh pergerakan. Inggit menyaksikan lahirnya Algemene Studieclub yang kemudian menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia (PNI), serta pertemuan para pemuda yang kemudian mengarah pada pergerakan 1928.

Inggit memanggil Sukarno dengan sapaan “Ngkus”. Bagi Inggit, Sukarno adalah suami, rekan perjuangan, dan kekasih.

Ketika Sukarno ditangkap dan dipenjara di Banceuy, Inggit dengan penuh pengorbanan mengirim makanan dan menyelundupkan buku-buku. Dari jerih payah itu lahirlah pembelaan monumental “Indonesia Menggugat”. Setelah itu Sukarno dipindahkan ke Penjara Sukamiskin selama 4 tahun.

Pada 1 Agustus 1933, Sukarno kembali ditangkap karena risalah “Mentjapai Indonesia Merdeka”. Ia kemudian diasingkan ke Ende, Flores, pada Februari 1934. Di Ende, Inggit mengalami duka besar karena ibunya, Amsi, meninggal akibat malaria pada 12 Oktober 1935.

Tahun 1938, setelah Sukarno juga terserang malaria, pemerintah Belanda memindahkan mereka ke Bengkulu. Di sana, mereka dekat dengan keluarga Hassan Din dan putrinya, Fatmawati. Fatma sering bersekolah bersama Omi dan diterima dengan hangat oleh Inggit.

Namun kedekatan Sukarno dan Fatmawati memicu keretakan rumah tangga. Sukarno menyatakan keinginannya menikahi Fatma demi keturunan, tetapi Inggit menolak dimadu. Dengan prinsip “ari kudu dicandung mah, cadu!” (“dimadu? pantang!”), Inggit meminta perceraian.

Inggit dan Sukarno resmi bercerai pada 29 Januari 1943 dengan perjanjian tunjangan hidup, disaksikan oleh Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansoer. Setelah itu, Inggit tinggal sementara di rumah Haji Anda di Jalan Lengkong Besar.

Sejak saat itu, kehidupan Inggit kembali sederhana. Ia menghidupi diri dengan membuat jamu dan bedak. Meski terpisah dari Sukarno, ia tetap dihormati sebagai sosok bijak yang selalu menasihati tamunya untuk menjaga harga diri bangsa.

Setelah lebih dari 20 tahun berpisah, Sukarno—sebagai Presiden RI—mengunjungi Inggit untuk meminta maaf. Dengan hati besar, Inggit menjawab, “Tidak usah diminta, Ngkus. Ngkus pimpinlah negara dan rakyat dengan baik.”

Ketika Sukarno wafat pada 21 Juni 1970, Inggit yang sudah renta tetap datang ke Jakarta. Saat melihat jasad Sukarno, ia berbisik lirih, “Ngkus, geuning Ngkus teh miheulaan, ku Nggit didoakeun.”

Pada 1980, Fatmawati mengajukan pertemuan untuk meminta maaf. Inggit menerimanya dengan tulus. Dalam pertemuan yang dihadiri Megawati, Guntur, dan Ali Sadikin, keduanya berpelukan sambil menangis.

Pada 13 April 1984, Inggit Garnasih wafat pada usia 96 tahun. Ia dimakamkan di TPU PORIB, Bandung. Rumah terakhirnya di Jalan Ciateul kini menjadi museum dan jalan tersebut dinamai Jalan Inggit Garnasih.

Penulis: Farly Mochamad
Editor: JT/ Maulana, Zahra, Muhamad Iqbal Al Hilal

:

(0)